Kenaikan harga BBM akan semakin menambah perih "luka" penduduk miskin Indonesia, yang menurut data dari BPS pada September 2011 sebanyak 29,98 juta orang dari jumlah keseluruhan 259 juta orang
Sesuai dengan informasi yang telah beredar dari berbagai sumber bahwa pemerintah memiliki kebijakan akan meningkatkan harga BBM sebesar Rp 1.500, dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000. Dari berbagai asumsi yang dilontarkan pihak pemerintah untuk "membujuk" rakyat negara ini secara keseluruhan sehingga mereka sepakat dan ikut membenarkan rencana kebijakan tersebut, alasan yang paling digaung-gaungkan adalah, bahwa kenaikan harga BBM sebagai sebuah jalan untuk menyelamatkan ekonomi nasional, dimana pengurangan subsidi dari BBM berarti penghematan untuk .pengeluaran APBN negara yang juga berarti bahwa negara ini tidak perlu menambah utang luar negerinya.
Pihak pemerintah seolah-olah menjadikan pengurangan subsidi BBM sebagai satu-satunya jalan yang bisa digunakan untuk menyelamatkan ekonomi nasional, tak lupa pula mereka selalu menyediakan data-data tentang perbandingan harga BBM nasional dengan negara lain yang jauh lebih mahal harganya sebagai suatu cara untuk meng"halalkan" rencana kebijakan tersebut. Namun yang perlu dipahami bahwa perbandingan tersebut sebenarnya hanyalah sebuah pembodohan untuk rakyat negara ini, kenapa? karena rakyat negara ini secara umum masih jauh dari kata siap untuk menghadapi kenyataan bahwa harga kebutuhan pokok semakin hari akan semakin mahal.
Ya..HARGA SEMBAKO AKAN SEMAKIN MAHAL, inilah kemudian yang entah disadari atau tidak oleh pemerintah, bahwa kebijakan diatas tidak sesederhana yang dibayangkan. Bahwa pada kenyataannya, kenaikan harga BBM akan "mencekik" rakyat miskin dari berbagai arah, khususnya pada sektor ekonomi.
Pakar-pakar ekonomi telah menganalis bahwa untuk saat ini sebenarnya kebijakan menaikkan harga BBM bukanlah satu-satunya cara untuk mengurangi defisit APBN, namun masih ada berbagai cara yang tidak kalah efektifnya. Namun sekali lagi, pemerintah negara ini seakan tuli dan bisu menghadapi ataupun mendengar aspirasi-aspirasi yang berpihak pada kesejahteraan rakyat semcam ini.
Jelas pula bahwa pemerintah masih menganggap remeh bangsa ini, terlihat jelas dari kebijakan yang akan mereka lakukan sebagai solusi dari kenaikan harga BBM, salah satunya adalah BLSM (bantuan langsung sementara masyarakat), dimana pemerintah akan memberikan uang tunai senilai Rp 150.000 untuk setiap bulannya selama sembilan bulan kedepan. pertanyaannya adalah "what next?". Kebijakan yang membodohi rakyat dan membimbing mereka untuk bermental pengemis seperti itu seolah tidak menjadi pembelajaran bagi mereka ketika kebijakan yang sama diterapkan sekitar empat tahun yang silam dengan nama BLT, dimana pada kenyataannya kebijakan ini sarat dengan penyelewengan, timbul gejolak sosial, dan penyaluran bantuan yang tidak pada sasarannya.
Sekali lagi penulis menganalogikan bahwa kebijakan tersebut bagaikan setetes cuka yang dituangkan ke luka yang masih berdarah, dan bisa anda bayangkan sendiri perihnya. Kebijakan menaikkan harga BBM ditengah sulitnya keadaan ekonomi rakyat miskin Indonesia yang nota bene harus menjadi salah satu perhatian utama pemerintah membuat mereka semakin sakit hati dan bertanya, kapankan kiranya pemerintah murni berpihak kepada mereka? Entah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar