Komunikasi Politik mencakup dua kata penting yang perlu dipahami, yakni komunikasi dan politik. M
enurut Gode (1969:5) dikutip oleh Wiryanto dalam buku Pengantar Ilmu
Komunikasi, memberikan pengertian komunikasi menurut Lexicographer (ahli kamus bahasa), komunikasi adalah upaya yang
bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika dua orang
berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling
dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya. Dengan kata lain bahwa proses komunikasi memiliki tujuan untuk menyampaikan pesan yang bisa dipahami bersama, baik komunikator maupun komunikan. Sedangkan politik menurut Miriam Budiarjo adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau
negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem
tersebut dan melaksanakan tujuan-tujuan tersebut. Sehingga secara sederhana Harold laswell berpendapat Politik menyangkut “who gets what, when, and how”.
Komunikasi politik adalah proses komunikasi untuk menyampaikan aspirasi yang bersifat politik, yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan media. Jika pada kegiatan komunikasi biasa, pesan yang disampaikan bisa bersifat pribadi atau informasi umum, maka komunikasi politik berisi pesan yang berunsur politik.
Ada beberapa pola dalam kegiatan komunikasi politik, diantaranya :
-
Pola komunikasi vertikal (top down, dari pemimpin kepada yang dipimpin)
-
Pola komunikasi horizontal (antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok)
-
Pola komunikasi formal (komunikasi melalui jalur-jalur organisasi formal)
-
Pola komunikasi informal ( komunikasi melalui pertemuan atau tatap muka, tidak mengikuti prosedur atau jalur-jalur organisasi).
Komunikasi politik kemudian digunakan oleh orang-orang yang terlibat dalam kegiatan per-politikan suatu negara untuk menjalin hubungan dengan orang lain, kelompok tertentu, atau rakyat dalam konteks yang lebih besar. Sehingga proses pencapaian tujuan komunikator-komunikator tersebut bisa tercapai sebagaimana mestinya. Dalam kondisi seperti diatas, biasanya saluran komunikasi yang digunakan melalui media massa, baik dengan bentuk rapat umum, konferensi pers, dan lain-lain. Baiklah, kita ambil contoh sederhana dari para calon wakil rakyat yang akhir-akhir ini semakin intens untuk berkomunikasi dan "dekat"dengan rakyat, mengkampanyekan keunggulan atau kelebihan mereka kepada khalayak, dengan menaruh harapan pada media massa pada umumnya untuk mendapatkan "anggukan kepala" khalayak bahwa "ya, kami memilihmu". Tentunya, dalam konteks seperti ini komunikasi yang digunakan oleh calon-calon wakil rakyat tersebut termasuk komunikasi politik dengan gaya retorika mereka masing-masing.
Dalam kondisi lain, survey, juga bisa merupakan sarana untuk melakukan komunikasi politik antara komunikator kepada komunikannya. Dengan mempublikasikan sebuah hasil survey misalnya, komunikator politik mampu menciptakan opini publik dan menggiring opini tersebut sesuai dengan "tujuan" dibuatnya survey ini, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan survey politik.
Betapapun kompleksnya sebuah proses komunikasi politik, bisa ditarik kesimpulan bahwa dalam "ruang" apapun, proses komunikasi selalu menjadi hal yang sangat penting untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. sehingga tidak salah jika kemudian dikatakan bahwa komunikasi adalah turunan dari semua ilmu pengetahuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar