Upaya membahas fenomena informasi secara ilmiah sudah mulai
dipikirkan oleh para ilmuwan sejak tahun 1920an. Namun upaya tersebut
baru benar-benar menarik perhatian kalangan akademisi dan industri
ketika Claude Shannon menulis “A Mathematical Theory of Communication”
tahun 1948 di jurnal Bell System Technical Journal. Shannon adalah
seorang ilmuwan matematik yang memang bekerja untuk laboratorium Bell,
membantu perusahaan ini mengembangkan teknologi telekomunikasi.
Silakan ambil artikel itu di sini http://pespmc1.vub.ac.be/books/Shannon-TheoryComm.pdf
Sebagai peneliti untuk perusahaan telekomunikasi, Shannon tentu saja
terutama tertarik terhadap efisiensi mengirim infomasi melalui saluran
telegram dan telepon yang waktu itu belum berkembang seperti saat ini.
Untuk itu, Shannon perlu memandang informasi sebagai simbol-simbol yang
dipertukarkan dalam komunikasi antar manusia. Secara khusus, dia harus
menjelaskan bagaimana alat dan saluran komunikasi mengirim simbol-simbol
itu dari satu titik di suatu tempat ke titik lain di tempat lainnya.
Ini dikenal sebagai transmisi informasi.
Bagi laboratorium Bell tempat Shannon bekerja, kapasitas,
efisisiensi, dan efektivitas transmisi ini menjadi amat penting untuk
pengembangan jaringan telepon. Shannon lalu menggunakan pendekatan
matematik yang memudahkan manusia mereduksi gejala rumit agar mudah
dipahami, dan kemudian menghitung atau mengukur gejala tersebut untuk
mencapai efisiensi teknologi.
Setahun setelah Shannon mengajukan pemikiran matematisnya di jurnal
perusahaan Bell, teori ini dikembangkan lebih jauh bersama seorang
rekannya, Warren Weaver, untuk menjadi buku. Di dalam buku inilah mereka
menegaskan bahwa untuk memahami informasi, kita perlu berasumsi bahwa
semua tujuan komunikasi adalah mengatasi ketidakpastian (uncertainty).
Teori yang dikembangkan Shannon dan Weaver menyederhanakan persoalan
komunikasi ini dengan memakai pemikiran-pemikiran probabilitas
(kemungkinan).
Jika kita melakukan undian dengan melempar sebuah uang logam, hasil undian itu dianggap bernilai satu bit
informasi karena mengandung dua kemungkinan dan setiap kemungkinan
mengandung nilai 0,5 alias sama besar dari segi kesempatan undian. Dari
pemikiran dasar yang sederhana ini, Shannon dan Weaver menyatakan bahwa
semua sumber informasi bersifat stochastic alias probabilistik
(bersifat kemungkinan). Jika kemungkinan tersebut bersifat tidak mudah
diduga, maka derajat ketidakmudahan ini disebut sebagai entropy.
Melalui pernyataan-pernyataan matematis, Shannon (dan lalu
juga Weaver) menunjukkan hubungan antara elemen sistem teknologi
komunikasi, yaitu sumber, saluran, dan sasaran. Setiap sumber dalam
gambaran Shannon memiliki tenaga atau daya untuk menghasilkan sinyal.
Dengan kata lain, pesan apa pun yang ingin disampaikan melalui
komunikasi, perlu diubah menjadi sinyal, dalam sebuah proses kerja yang
disebut encoding atau pengkodean. Sinyal yang sudah berupa kode
ini kemudian dipancarkan melalui saluran yang memiliki kapasistas
tertentu. Saluran ini dianggap selalu mengalami gangguan (noise)
yang mempengaruhi kualitas sinyal. Memakai hitung-hitungan
probabilitas, teori informasi mengembangkan cara menghitung kapasitas
saluran dan kemungkinan pengurangan kualitas sinyal. Sesampainya di
sasaran, sinyal ini mengalami proses pengubahan dari kode menjadi pesan,
atau disebut juga sebagai proses decoding.
Teori informasi Shannon juga menganggap bahwa informasi dapat
dihitung jumlahnya, dan bahwa informasi bersumber atau bermula dari
suatu kejadian. Jumlah informasi yang dapat dikaitkan, atau dihasilkan
oleh, sebuah keadaan atau kejadian merupakan tingkat pengurangan
(reduksi) ketidakpastian, atau pilihan kemungkinan, yang dapat muncul
dari keadaan atau kejadian tersebut. Dengan kata yang lebih sederhana,
teori ini berasumsi bahwa kita memperoleh informasi jika kita memperoleh
kepastian tentang suatu kejadian atau suatu hal tertentu.
Keunggulan teori Shannon-Weaver terletak pada kemampuannya membuat
persoalan komunikasi informasi menjadi persoalan kuantitas, sehingga
sangat cocok untuk mengembangkan teknologi informasi. Kritik terhadap
teori mereka datang dari kaum yang mencoba mengaitkan informasi dengan
makna dan kandungan nilai sosial-budaya di dalam informasi. Sampai
sekarang, perdebatan tentang apakah informasi adalah sesuatu yang
kuantitatif atau kualitatif masih terus berlangsung. Ada yang mencoba
mengambil kebaikan dari kedua pihak dengan mengatakan bahwa informasi
adalah sesuatu yang berwujud dan sekaligus bersifat abstrak.
Jasa Shannon-Weaver terletak pada kepioniran
mereka memperkenalkan diskusi dan aplikasi informasi ke dalam kehidupan
manusia. Apa yang sekarang kita alami dan nikmati, adalah hasil
perkembangan dari pemikiran mereka juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar