Dalam Sidang Paripurna DPR, Jumat (30/3) malam, PKS
menolak satu suara dengan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. PKS
bersikukuh menolak kenaikan harga BBM bersubsidi. Hal ini kemudian memicu
persoalan dalam tubuh Sekretariat Gabungan (Setgab) yang terdiri dari enam
partai tersebut dibawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono selaku presiden
Republik Indonesia sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.
PKS kemudian dinilai sebagai pembangkang dalam
setgab karena tidak mendukung keputusan pemerintah yang merencanakan untuk
memberlakukan kebijakan menaikkan harga BBM dengan berbagai pertimbangan. “Semua
partai koalisi, harus patuh terhadap kebijakan pemerintah meskipun terkadang
kebijakan itu bisa merugikan citranya. Kalau mau enaknya sendiri, PD tak
masalah PKS keluar koalisi” kata Sekretaris FPD DPR, Saan Mustopa, kepada detikcom,
Rabu (28/3/2012).
Disisi lain seperti ditulis Harian Analisa bahwa Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq
menyatakan partainya tetap konsisten mengusulkan agar pemerintah tidak
menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). "Kami akan bersama
masyarakat karena partai ini dibesarkan masyarakat. Politisi bisa mencapai
menteri dan kursi DPR karena didukung rakyat. Jadi, kalau keputusan pemerintah
tidak sesuai aspirasi rakyat, kami tidak meninggalkan rakyat," katanya
menegaskan.
Melihat pertanyaan dari Presiden Partai Keadilan Sejahtera
(PKS) Luthfi Hasan Ishaaq tersebut, jelas bahwa PKS sendiri seharusnya rela
keluar dari koalisi Parta Demokrat jika memang partai tersebut (PKS, red.)
dikeluarkan dari koalisi setgab sebagai sanksi atas “pembangkangan” pada
keputusan yang dibuat setgab.
Yang
kemudian menjadi persoalan dan menarik untuk dipikirkan adalah bagaimana seharusnya
SBY bersikap terhadap hal tersebut baik pada posisinya sebagai Presiden maupun
Pembina PD, dan apakah sikap PKS tersebut memang bisa dinilai sebagai langkah
nyata partai untuk berpihak kepada
rakyat Indonesia yang secara umum menolak kebijakan kenaikan harga BBM, ataukah
hanya “jurus jitu” yang dikeluarkan pada saat yang tepat hanya untuk menarik
simpati masyarakat?
Melihat
citra yang telah terbentuk dalam benak masyarakat saat ini terkait Presiden SBY
yang dinilai sering ragu-ragu untuk mengambil suatu keputusan, permasalahan
diatas seharusnya menjadi “peluang” SBY untuk memperlihatkan bahwa dia tidak
seperti apa yang dicitrakan. Dengan kata lain, bahwa Pembina PD ini harusnya
tegas bersikap dengan mengeluarkan PKS secepatnya dari koalisi. Sehingga dia
bisa dinilai sebagai pemimpin yang tegas dan konsisten dengan kebijakan yang
akan diambil, meskipun dengan resiko masyarakat secara umum tidak sepakat
dengan kebijakan tersebut.
Terlepas
dari menguntungkan atau tidaknya kebijakan menaikkan harga BBM tersebut, yang
jelas masyarakat saat ini sedang fokus pula pada gaya kepemimpinan SBY yang
selalu melempar masalah untuk diwacanakan pada ranah publik yang pada akhirnya
mengambang dan berlarut-larut. Jika permasalahan “pembangkangan” PKS tersebut
tidak diambil keputusan secepatnya, maka bisa diperkirakan hal tersebut akan
menjadi masalah berkelanjutan yang seharusnya tidak perlu terjadi apalagi
menjadi sebuah polemik yang berkepanjangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar